Belajar Tuk Mengabdi

Kita Untuk Agama dan Bangsa

Proposal SKRIPSI

Posted by albasanto pada 24 September 2009

Proposal Studi Penafsiran dalam Tafsir Al-Mishbah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam dua dekade ini, kesetaraan jender mulai banyak dikaji di kalangan akademisi Indonesia, baik dalam tinjauan bersifat umum maupun yang dikaitkan dengan pemikiran Islam, terutama tentang penafsiran ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah perempuan.
Kajian tentang masalah perempuan ini muncul lebih disebabkan oleh rasa keprihatinan terhadap realitas posisi perempuan dalam berbagai lini kehidupan. Posisi perempuan selalu dikaitkan dengan lingkungan domestik yang berhubungan dengan urusan keluarga dan rumah tangga, sementara posisi laki-laki sering dikaitkan dengan lingkungan publik, yang berhubungan dengan urusan-urusan di luar rumah. Dalam struktur sosial seperti ini, posisi perempuan yang demikian itu sulit mengimbangi posisi laki-laki. Perempuan yang ingin berkiprah di lingkungan publik masih sulit melepaskan diri dari tanggung jawab di lingkungan domestik. Beban ganda seperti ini dikarenakan tugasnya sebagai pengasuh anak sudah merupakan persepsi budaya secara umum.
Begitu pula budaya di beberapa kalangan, hubungan-hubungan tertentu laki-laki dan perempuan dikonstruksi oleh mitos. Mulai mitos tulang rusuk asal-usul kejadian perempuan sampai mitos-mitos di sekitar menstruasi. Mitos-mitos tersebut cenderung mengesankan perempuan sebagai the second creation dan the second sex. Pengaruh mitos-mitos tersebut mengendap di alam bawah sadar perempuan sekian lama sehingga perempuan menerima kenyataan dirinya sebagai subordinasi laki-laki dan tidak layak sejajar dengannya.
Ironisnya, bahwa posisi perempuan di dalam masyarakat kurang disadari oleh kaum perempuan sendiri. Bahkan tidak jarang sekelompok perempuan merasa nyaman dengan kondisi tersebut walaupun sekelompok lainnya merasa prihatin. Demikianlah, sehingga dominasi laki-laki dalam peran publik dan domestikasi perempuan merupakan pola hubungan yang niscaya terjadi antara laki-laki dan perempuan di masyarakat. Oleh sebab itu, tidak heran kalau kemudian hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang sudah bersifat alami atau kodrati. Anggapan umum seperti inilah yang ditolak oleh feminisme selama kurang lebih dua dekade ini.
Pola hubungan ini, yakni posisi perempuan yang lemah dan posisi laki-laki yang kuat, di berbagai kelompok masyarakat dalam lintasan sejarah selalu ditemukan. Sehubungan dengan ini, dapatlah kita identifikasikan pola hubungan tersebut berdasarkan ciri-ciri universal dalam berbagai kelompok budaya sebagai berikut.
Dalam masyarakat primitif, umumnya peran sosial ekonomi terpola pada dua bagian, yaitu pemburu untuk kaum laki-laki dan peramu untuk kaum perempuan. Berarti hal ini menandai bahwa kaum laki-laki memperoleh kesempatan lebih besar untuk memperoleh pengakuan dan prestise di wilayah publik. Sedangkan dalam masyarakat hortikultura, pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin tidaklah terlalu tampak, karena perempuan dianggap dapat dan mampu untuk melakukan usaha sebagaimana laki-laki. Perempuan dalam masyarakat hortikultura memperoleh kedudukan lebih tinggi bila dibanding dengan kelompok masyarakat primitif. Namun secara umum, peran politik dalam masyarakat ini masih tetap didominasi kaum laki-laki.
Selanjutnya, peralihan masyarakat hortikultura ke masyarakat agraris membawa perubahan sosial yang penting. Dalam masyarakat agraris ketimpangan hubungan antara laki-laki dan perempuan sangat terasa. Kaum perempuan pada umumnya tersisih dari peranan produksi secara ekonomis, dan produksi lebih didominasi oleh kaum laki-laki. Sehingga dalam masyarakat ini berkembang pola yang disebut dengan “lingkungan publik-domestik”. Di mana lingkungan publik didominasi laki-laki sedangkan perempuan ditempatkan dalam lingkungan domestik.
Sedangkan dalam masyarakat industri, kaum perempuan kembali mendapatkan tempat untuk terlibat dalam kegiatan perekonomian, namun secara umum substansi pola publik-domestik masih dipertahankan, karena partisipasi perempuan masih dihargai lebih rendah daripada laki-laki. Tegasnya, dalam masyarakat industri, pembagian kerja secara seksual masih menonjol. Masyarakat industri mengacu kepada orientasi produksi. Maka perempuan dianggap the second class karena fungsi reproduksinya mereduksi fungsi produksinya. Pola relasi jender ini masih berlangsung tidak seimbang, dan dengan demikian status kedudukan perempuan masih tetap lemah.
Pola hubungan ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor dalam perjalanan sejarah panjang umat manusia: sosial, ekonomi, budaya, politik termasuk pula penafsiran terhadap teks-teks keagamaan. Feminisme mengkaji secara kritis berbagai macam pola hubungan laki-laki dan perempuan yang ada dan berkembang di masyarakat dengan menggunakan paradigma kesetaraan laki-laki dan perempuan. Salah satu tema kajian feminisme yang menarik adalah kajian kritis tentang konsep kesetaraan jender dalam al-Qur’an. Tema kajian tersebut merupakan prinsip pokok dalam ajaran Islam, yakni persamaan antara manusia, baik laki-laki dan perempuan, maupun antara bangsa, suku dan keturunan.
Dalam beberapa ayat al-Qur’an, masalah kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan ini mendapat penegasan. Secara umum ini dinyatakan oleh Allah dalam surat al-Hujurât ayat 13 bahwa semua manusia, tanpa membedakan jenis kelamin, warna kulit dan perbedaan-perbedaan yang bersifat given lainnya, mempunyai status sama di mata Allah. Mulia dan tidak mulia mereka di mata Allah ditentukan oleh ketaqwaan, yaitu prestasi yang dapat diusahakan. Begitu pula pahala yang mereka raih dari usaha mereka tidaklah dibeda-bedakan, bahkan kesetaraan tersebut ditegaskan secara khusus sebagaimana yang tersurat dalam surat al-Ahzâb ayat 35:
إِنَّ المُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالقَانِتِينَ وَالقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالخَاشِعِينَ وَالخَاشِعَاتِ وَالمُتَصَدِّقِينَ وَالمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيراً وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً.
Begitu pula dalam surat al-Nisâ’ ayat pertama Allah menyatakan bahwa perempuan adalah salah satu unsur di antara dua unsur yang mengembangbiakkan manusia. Ayat ini juga menunjukkan adanya persamaan antara perempuan dan laki-laki dalam hal-hal yang termasuk kekhususan umat manusia.
Namun demikian, dalam beberapa ayatnya, muncul problem kesetaraan, terutama dalam penafsiran terhadap teks-teks tertentu. Dalam surat ini ada beberapa tema yang sering diperdebatkan oleh banyak kalangan, termasuk kalangan feminis. Salah satu tema tersebut adalah tentang penciptaan perempuan dalam al-Nisâ ayat 1, sebagai berikut:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً.
Sebagian besar ulama menafsirkan kata nafs wâhidah dengan Adam, sedangkan kata zawj diartikan dengan Hawa, yakni isteri Adam yang diciptakan dari tulang rusuknya. Timbulnya penafsiran tersebut agaknya dipengaruhi oleh sebuah hadits Nabi yang menegaskan bahwa wanita diciptakan Allah dari tulang rusuk.
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِنَّ المَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَ إِنَّ أَعْوَجَ شَئٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَّرْتَهُ، وَ إِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَ فِيْهَا عِوَجٌ.
Sedangkan Muhammad ‘Abduh dan Rasyîd Ridhâ, dalam Tafsîr al-Manâr, menolak penafsiran tersebut di atas. Karena menurut mereka, surat al-Nisâ 4:1 secara lahir tidak menyatakan bahwa kata nafs wâhidah adalah Adam, dan juga tidak ada dalam al-Qur’an nash yang mendukung pemaknaan tersebut. Untuk itu, mereka cenderung memaknai kata nafs wâhidah sebagai materi yang dengannya diciptakan Adam dan isterinya (Hawa). Tampaknya ‘Abduh dan Ridhâ ingin memperjuangkan hak-hak perempuan.
Namun berbeda dengan Quraish Shihab, di dalam bukunya Tafsir Al-Mishbah, terkesan tidak ingin ikut campur dalam perdebatan antara kedua belah pihak di atas. Di dalam tafsirnya, Shihab memaparkan penafsiran kedua belah pihak tentang frase min nafs wâhidah wa khalaqa minhâ, serta menunjukkan inti dari polemik tersebut. Kemudian ia berusaha mendialogkan pendapat kedua belah pihak dengan titik tekan pada keserasian al-Qur’an (munâsabah). Shihab menulis:
Perlu dicatat sekali lagi bahwa pasangan Adam itu diciptakan dari tulang rusuk Adam, maka itu bukan berarti bahwa kedudukan wanita-wanita selain Hawa demikian juga, atau lebih rendah dibanding dengan lelaki. Ini karena semua pria dan wanita anak cucu Adam lahir dari gabungan antara pria dan wanita, sebagaimana bunyi surah al-Hujurât di atas, dan sebagaimana penegasan-Nya, “Sebahagian kamu dari sebahagian yang lain”(Q.S. Ali ‘Imrân [3]:195). Lelaki lahir dari pasangan pria dan wanita, begitu juga wanita. Karena itu, tidak ada perbedaan dari segi kemanusiaan antara keduanya. Kekuatan lelaki dibutuhkan oleh wanita dan kelemahlembutan wanita didambakan oleh pria.
Melihat tulisannya, dapat dipahami bahwa Shihab tidak mengakui adanya perbedaan dari segi kemanusiaan, namun perbedaan antara laki-laki dan perempuan tersebut bersifat given. Dari perbedaan inilah timbul komunikasi positif (hubungan saling menyempurnakan) antara keduanya dalam bingkai kemitraan. Bisa jadi, asumsi peneliti, kesetaraan yang ia maksud adalah kemitraan.
Dengan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk meneliti bagaimana mufasir Indonesia menafsirkan ayat-ayat problematik dalam surat Al-Nisâ’ seperti diungkapkan di atas.
Latar belakang sosial-budaya banyak berpengaruh kepada mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Latar belakang Indonesia tentu juga berpengaruh kepada para mufasir Indonesia. Pertimbangan lain mengapa penulis memilih kitab tafsir Indonesia, adalah karena kitab tafsir tersebut lebih mudah dan tentu lebih banyak diakses oleh pembaca Indonesia yang karena faktor bahasa, tidak dapat langsung mengakses kitab-kitab tafsir berbahasa Arab. Itu berarti diasumsikan bahwa pengaruh kitab-kitab tafsir Indonesia lebih besar kepada pembaca Indonesia dibanding kitab-kitab tafsir lainnya yang berbahasa Arab.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Sekalipun dalam Indonesia modern, banyak tafsir berbahasa Indonesia bermunculan seperti Tafsir Al-Azhar karya M HAMKA, Tafsir An-Nur karya Hasbi ash-Shiddeqy, Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab dan lain-lain, namun yang akan peneliti teliti adalah Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Pembatasan tersebut, di samping karena keterbatasan waktu yang peneliti miliki, adalah karena Tafsir Al-Mishbah merupakan tafsir Al-Qur’an 30 juz yang paling terakhir muncul bertepatan pula dengan maraknya kajian-kajian tentang jender oleh berbagai kalangan, baik yang pro maupun yang kontra. Sehingga patut pula diasumsikan sedikit banyak Tafsir Al-Mishbah merespon polemik tersebut.
Dari Tafsir Al-Mishbah ini, peneliti tertarik untuk meneliti persoalan kesetaraan jender yang ada dalam surat al-Nisâ’. Dibatasi dalam surat ini, karena surat ini paling banyak membicarakan persoalan kaum perempuan.
Dari fokus surat al-Nisâ’ ini, yang dibahas dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan dalam empat masalah yaitu: (1) asal kejadian perempuan (Q.S. al-Nisâ’ 4:1); (2) poligami (al-Nisâ’ 4:3); (3) warisan (Q.S. al-Nisâ’ 4:11); (4) kepemimpinan dalam rumah tangga (Q.S. al-Nisâ’ 4:34). Alasan kenapa empat persoalan ini yang dibahas, karena tampaknya di beberapa tempat dan waktu, empat isu inilah yang sangat gencar diperdebatkan oleh banyak kalangan, termasuk kaum feminis dan para mufasir. Bahkan bagi kalangan feminis, empat ayat inilah yang dinilai cukup potensial untuk ditafsirkan menuju pada kesimpulan supremasi laki-laki atas perempuan.
Dengan demikian judul skripsi ini dapat dirumuskan menjadi Tafsir Indonesia Tentang Perempuan (Studi atas penafsiran surat al-Nisâ’ dalam Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab).
Selanjutnya, permasalahan yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana penafsiran Shihab terhadap ayat-ayat yang menyangkut persoalan perempuan dalam surat al-Nisâ’, khususnya tentang asal kejadian perempuan, poligami, kewarisan, dan kepemimpinan dalam rumah tangga di dalam Tafsir Al-Mishbah?
2. Apa spesifikasi penafsiran Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah dibandingkan dengan penafsiran para mufasir sebelumnya?
3. Sejauhmana latar belakang kehidupan Shihab berpengaruh terhadap penafsirannya?
C. Tujuan dan Kegunaan Studi

1. Tujuan Studi
Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang konsep kesetaraan gender dalam surat al-Nisâ’ menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Secara khusus penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
a. Untuk dapat diketahui penafsiran Quraish Shihab terhadap ayat-ayat yang menyangkut persoalan perempuan di dalam surat al-Nisâ’, khususnya tentang asal kejadian perempuan, poligami, kewarisan, dan kepemimpinan rumah tangga di dalam Tafsir Al-Mishbah.
b. Untuk dapat diketahui spesifikasi penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah dibandingkan dengan penafsiran para mufasir sebelumnya.
c. Untuk dapat diketahui sejauhmana latar belakang kehidupan Quraish Shihab berpengaruh terhadap penafsirannya.
2. Kegunaan Studi
Studi ini diharapkan dapat: (1) menyumbangkan model penafsiran yang tepat dan aktual tentang konsep kesetaraan laki-laki dan perempuan; (2) bermanfaat bagi perkembangan ilmu tafsir, terutama yang berpengaruh terhadap metode penafsiran; (3) hasil-hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya maupun sebagai usaha menarik minat peneliti lain, khususnya di kalangan mahasiswa, untuk mengembangkan penelitian lanjutan, mengenai topik yang sama dan serupa.

D. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian kepustakaan murni. Yakni, data dikumpulkan dan diolah dari sumber-sumber kepustakaan yang ditelaah secara komprehensif.
2. Data
Ada tiga jenis data yang akan dijaring dalam penelitian ini, yaitu:
a. Pandangan Shihab terhadap ayat-ayat yang menyangkut persoalan perempuan dalam surat al-Nisâ’, khususnya tentang asal kejadian perempuan, poligami, kewarisan, dan kepemimpinan dalam rumah tangga.
b. Pandangan para mufasir klasik terhadap ayat-ayat yang menyangkut persoalan perempuan dalam surat al-Nisâ’, khususnya tentang asal kejadian perempuan, poligami, kewarisan, dan kepemimpinan dalam rumah tangga.
c. Latar belakang kehidupan Quraish Shihab.

3. Sumber Data
Sumber-sumber yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data-data yang tersebut di atas dipilah menjadi tiga kategori, yaitu (a) sumber data primer, yakni sumber data yang digunakan sebagai obyek utama dalam penelitian ini. Yakni, Tafsir Al-Mishbah; (b) sumber data sekunder, yakni sumber data yang digunakan untuk membantu menelaah data-data yang dihimpun dan sebagai pembanding sumber data primer. Yakni kitab-kitab tafsir lain dan buku-buku tentang perempuan; (c) catatan-catatan biografi Quraish Shihab; (d) Sumber data pembantu, yakni sumber data yang digunakan untuk membantu penelitian ini. Yakni buku-buku hadis dan fiqih, artikel-artikel, dan kamus-kamus yang diperlukan.
4. Teknik Pengumpulan Data
Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelumnya, ada tiga jenis data yang hendak dijaring dalam penelitian ini.
Penggalian data a dan b dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:
a. Menentukan ayat al-Qur’an dari surat al-Nisâ’ pada tiap-tiap tema di dalam Tafsir Al-Mishbah.
b. Melacak pendapat para mufasir dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.
c. Mendokumentasikan dan melakukan kategorisasi temuan-temuan tersebut berdasarkan tema-tema tersebut.
Sedangkan penggalian data c dilakukan dengan cara membaca buku-buku kepustakaan, mendokumentasikan dan menyusun temuan-temuan tersebut dalam kerangka yang sistematis.
Setelah data-data dihimpun akan dilakukan pengolahan data tersebut dengan tahapan sebagai berikut:
a. Editing yaitu memeriksa kembali semua data yang telah diperoleh.
b. Menyimpulkan pendapat para mufasir, khususnya pendapat Shihab, secara utuh terhadap tema-tema tersebut untuk selanjutnya dilakukan perbandingan.
c. Membandingkan pendapat Shihab dengan para mufasir dan pemikir kontemporer guna mendapatkan identitas dan spesifikasi pola pikirnya.
d. Mengkaji sejauh mana pengaruh latar belakang kehidupan Shihab terhadap penafsirannya.
5. Metode Analisis
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode induktif dan komparatif. Metode induktif digunakan dalam rangka memperoleh gambaran utuh tentang pemikiran Shihab yang berkaitan dengan perempuan dalam surat an-Nisâ’. Adapun metode komparatif dipakai untuk membandingkan antara pemikiran Shihab dan para mufasir sebelumnya dan juga dengan pemikiran-pemikiran lain yang dinilai relevan.

E. Sistematika Pembahasan
Secara garis besar penyusunan skripsi ini dibagi menjadi enam bab. Bab I berisi pendahuluan yangmencakup peta arah dan acuan penulisan skripsi yang meliputi: latar belakang, pembatasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan, dan metode penelitian yang meliputi; jenis penelitian, data, sumber data, pengolahan data, metode analisis, dan sistematika pembahasan.
Bab II membahas sekilas metodologi tafsir guna untuk menjelaskan posisi penelitian ini dalam kajian tafsir. Bab ini mencakup pengertian metodologi tafsir, metode tahlîlî, ijmâli, muqârin dan maudhû‘i.
Bab III berbicara sekilas konteks historis surat al-Nisâ’, agar dapat dijelaskan posisi ayat-ayat yang menjadi obyek kajian. Kemudian bab ini juga memaparkan penafsiran Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah terhadap empat hal, yakni asal kejadian perempuan, poligami, kewarisan, dan kepemimpinan dalam rumah tangga.
Bab IV berfungsi untuk menemukan spesifikasi penafsiran Shihab di dalam Tafsir Al-Mishbah. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan penafsiran Shihab dengan penafsiran para mufasir klasik terhadap beberapa tema di dalam kitab-kitab mereka.
Bab V mencakup riwayat hidup Shihab, latar belakangnya, sejarah penulisan Tafsir Al-Mishbah, bentuk, metode dan corak penafsirannya. Melakukan mengkaji pengaruh latar belakang kehidupan Shihab terhadap kitab tafsirnya, Tafsir Al-Mishbah. Pembahasan dalam skripsi ini diakhiri dalam Bab VI dengan penutup yang di dalamnya berisi kesimpulan dan saran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s